Rabu, 17 April 2013

PENDEKATAN SITUASIONAL (KONTINGENSI) SEORANG MANAJER



 A. KONSEP KEPEMIMPINAN SITUASIONAL SEORANG MANAGER
           Makna kata “kepemimpinan” erat kaitannya dengan makna kata      “memimpin”. Kata memimpin mengandung makna Yaitu kemampuan untuk      menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu organisasi sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa pimpinan memainkan peranan yang amat penting, bahkan dapat  dikatakan amat mnentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Memang benar bahwa pimpinan, baik secara individual maupun kelompok, tidak mungkin dapat bekerja    sendirian. Pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain, yang    digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan     pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi, terutama dalam cara bekerja yang, efisien, efektif, ekonomis dan produktif.
     Dengan kata lain seorang pemimpin harus menunjukkan kemampuan   untuk:
ü  Pemegang kemudi organisasi yang cekatan dengan jalan membawa organisasi ke tempat tujuan yang ditetapkan sebelumnya tanpa melalui terlampau banyak penyimpangan (detour) yang jika terjadi dengan frekuensi yang tinggi akan mengakibatkan pemborosan dan inefesiensi.

ü  Berperan selaku katalisator yang mampu meningkatkan laju jalannya roda organisasi yang diharapkan terjadi atas dalil “deret ukur” dan bukan “deret hitung”.

ü  Peranan selaku “bapak” terutama di kalangan anggota organisasi. Sering dalam organisasi baik organisasi swasta maupun pemerintahterdengar istilah “keluarga besar”, hal ini menunjukkan bahwa dalam organisasi tersebut telah terjalin hubungan emosional kekeluargaan yang kondusif dan hangat.

 B. GAYA KEPEMIMPINAN SITUASIONAL SEORANG MANAGER
           Gaya Kepemimpinan seorang manajer beragam macamnya. Gaya   Kepemimpinan Situasional merupakan pendekatan yang sangat    efektif, untuk meningkatkan kreatifitas seorang manajer dalam    menghadapi suatu masalah tergantung situasi yang dihadapi. Gaya kepemimpinan situasional adalah perilaku dan gaya kepemimpinan bersifat situasional. Dimana pimpinan atau seorang manajer harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan karyawan, serta memberikan sejumlah pengarahan dan   dukungan yang bersifat sosioemosional. Gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat, yaitu pengambilan keputusan cepat, dapat   memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan   keteraturan bagi bawahan. Seorang pemimpin dapat melakukan berbagai cara dalam kegiatan mempengaruhi atau memberi motivasiorang lain atau bawahan agar melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah terhadap pencapaian tujuan organisasi. Cara ini mencerminkan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya, dan merupakan gambaran gaya kepemimpinannya.Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat      (”managers are people who do things right and leaders are people     who do the right thing, “). Kepemimpinan memastikan tangga yang   kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan manajemen   mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga apa yang diinginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberikan dorongan dari belakang, tetap mengarahkan agar sesuai tujuan, dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan. Perilaku kepemimpinan memiliki ciri-ciri pokok, yaitu:
ü  perilaku instruktif; komunikasi satu arah, pimpinan membatasi peranan bawahan, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan menjadi tanggung jawab pemimpin, pelaksanaan pekerjaan diawasi dengan ketat.

ü  perilaku konsultatif; pemimpin masih memberikan instruksi yang cukup besar serta menentukan keputusan, telah diharapkan komunikasi dua arah dan memberikan supportif terhadap bawahan, pemimpin mau mendengar keluhan dan perasaan bawahan tentang pengambilan keputusan, bantuan terhadap bawahan ditingkatkan tetapi pelaksanaan keputusan tetap pada pemimpin.

ü  perilaku partisipatif; kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan antara pimpinan dan bawahan seimbang, pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi dua arah makin meningkat, pemimpin makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya, keikutsertaan bawahan dalam pemecahan dan pengambilan keputusan makin bertambah.

ü  perilaku delegatif; pemimpin mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan bawahan dan selanjutnya mendelegasikan pengambilan keputusan seluruhnya. kepada bawahan, bawahan diberi hak untuk menentukan langkah-langkah bagaimana keputusan dilaksanakan, dan bawahan diberi wewenang untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan keputusan sendiri Dimanapun posisinya, dan apapun perannya akan tetap saling mendukung dan menopang.

     Ada empat respon kepemimpinan yang sering diterapkan yaitu :
1.      Memberikan arahan yaitu kepemimpinan yang mengarahkan, merupakan   respon kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh manajer pada     kondisi karyawan lemah dalam kemampuan, minat dan komitmenya. Sementara itu, organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas    yang tinggi. Dalam situasi seperti ini Hersey and Blancard      menyarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi, member saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu, tanpa   mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara pimpinan dan bawahan.

2.      Bersahabat (Friendly) yaitu pada kondisi karyawan menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, takut untuk mencoba melakukannya, manajer juga harus memproporsikan struktur tugas dengan tanggungjawab karyawan. Selain itu, manajer harus menemukan hal-hal yang menyebabkan karyawan tidak termotivasi, serta masalah-masalah yang dihadapi karyawan. Pada kondisi karyawan sudah mulai mampu mengerjakan tugas-tugas dengan lebih baik, akan memicu perasaan timbulnya over confident. Kondisi ini, memungkinkan karyawan menghadapi permasalahan baru yang muncul. Masalah-masalah baru yang muncul tersebut, seringkali menjadikannya putus asa. Oleh karena itu, setelah memberikan pengarahan, manajer harus memerankan gaya menjual. Dengan mengajukan beberapa alternatif pemecahan masalah.

3.      Setia Kawan (Kebersamaan) yaitu gaya kepemimpinan ini adalah respon manajer yang harus diperankan ketika tingkat kemampuan karyawan akan tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggung jawab, karena ketidakmauan atau ketidakyakinan mereka untuk melakukan tugas/tangung jawab seringkali disebabkan karena kurang keyakinan. Dalam kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendengarkan mendukung usaha-usaha yang dilakukan para bawahan/pengikutnya.

4.      Tegas yaitu pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan, karena dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas/tanggung jawabnya. Mereka diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskannya tentang bagaimana, kapan dan dimana pekerjaan mereka harus dilaksanakan. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan komunikasi dua arah.

 C. Implementasi Pendekatan Situasional Seorang Manajer
           Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri pribadi   pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan  dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional. Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi merupakan suatu teori yang berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat universal, dan pandangan yang berpendapat   bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu. Pendekatan situasional bukan hanya merupakan hal yangpenting bagi kompleksitas yang bersifat interaktif dan fenomena      kepemimpinan, tetapi membantu pula cara pemimpin yang potensial      dengan konsep-konsep yang berguna untuk menilai situasi yang      bermacam-macam dan untuk menunjukkan perilaku kepemimpinan yang     tepat berdasarkan situasi. Peranan pemimpin harus dipertimbangkan dalam hubungan dengan situasi dimana peranan itu dilaksanakan.              Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa      kepemimpinan Dalam implementasinya, pendekatan yang dilakukan   akan berdampak positif dan bersifat tepat sasaran. Walaupun organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang   tinggi.Disarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi, memberi saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu,tanpa mengurangi intensitas hubungan sosial dan komunikasi antara    atasan dan bawahan. Komunikasi dua arah menuntut keahlian   manajemen puncak mencerna informasi yang disampaikan para manajer dan karyawan, terutama keluh kesah mereka (bottom-up) dan     keahlian menyampaikan informasi dari pucuk pimpinan perusahaan ke   seluruh manajer dan karyawan (top-down). Sementara itu,komunikasi tatap muka menuntut manajemen puncak meluangkan waktuberkunjung ke lokasi kerja manajer dan karyawan.
           Kunjungan ini   sangat bermanfaat bagi kelancaran    komunikasi dua  arah, serta memompa semangat kerja manajer dan karyawan ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh persyaratan situasi sosial. Dalam   kaitan ini Sutisna menyatakan bahwa “kepemimpinan” adalah hasil dari hubungan-hubungan dalam situasi sosial, dan dalam situasi berbeda para pemimpin memperlihatan sifat kepribadian yang   berlainan.
           Jadi, pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi yang lain dimana keadaan dan      faktor-faktor sosial berbeda. Lebih lanjut Yukl menjelaskan bahwa pendekatan situasional menekankan pada pentingnya faktor-faktor kontekstual seperti sifat pekerjaan yang dilaksanakan oleh unit pimpinan, sifat lingkungan eksternal, dan karakteristik   para pengikut.
           Sementara Fattah berpandangan bahwa keefektifan      kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas,     kekuasaan, sikap dan persepsiDidalam Pendekatan situasional ini,     seorang manajer dituntut keberaniannya mengambil risiko dan   kesediaan menerima kenyataan yang pahit sekalipun. Kesewenang-kewenangan manajemen puncak terhadap manajer dan karyawan dapat dicegah, serta keputusan-keputusan dapat diambil dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak (stakeholder).




    SUMBER ;



Tidak ada komentar:

Posting Komentar